Principle Thingking Dalam Menciptakan Sebuah Storytelling Video

Terdengar sebuah obrolan anak-anak kreatif di kedai kopi hits. "Jo gue mau buat video barista bikin kopi nih, pasti seru. Dan kayaknya bagus banget kalo kita buat video grading-nya seperti videonya Ferry Irwandi deh, Eh tapi lensa gue ga bisa sih ngambil dengan depth of field sesempit itu, kayaknya harus beli lensa lagi deh gue".

Saya rasa dari pembicaraan itu ga ada yang salah, mereka memikirkan bagaimana menciptakan video yang mewah dan mengikuti trend. Baiklah, saya masih menunggu pembahasan esensi utama tujuan mereka membuat video.

Tapi sayangnya, saya terlalu banyak mendengar pembicaraan mereka soal teknis-teknis pembuatan, seperti grading, peralatan yang cangih, pengambilan gambar yang estetik, editing, art, lighting, talent dan sebagainya.

Jadi, apa tujuan utama pembuatan video dengan judul "Barista Membuat Kopi"? Kenapa mereka harus membuat video "Barista Membuat Kopi"? Bukankah esensi itu yang seharusnya dibahas terlebih dahulu?

Saya jadi teringat seorang creator video bahas tentang kopi yang bernama Dr. Ray. Dr. Ray yang terkesan membuat video apa adanya, tanpa teknis yang mewah, tapi videonya sangat viral.

Sebenarnya dalam 2 case ini tidak ada yang benar dan salah. Hanya saja, saya mahluk komunikasi, dimana esensi utama yang saya tunggu dari sebuah video adalah sebuah pesan, bukan video art dengan pengambilan yang mewah tapi tanpa ada esensi pesannya. Dan saya rasa kebanyakan orang juga seperti itu toh?

Tidak haram memikirkan teknis video agar terlihat lebih mewah, tapi bukankah kebanyakan orang menciptakan video storytelling bertujuan untuk berkomunikasi? Tapi kalo emang tujuannya ga kesana, ya gapapa juga, go ahead. Tapi belajar principle thinking itu bukannya lebih baik kan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenomena Memudarnya Komunitas

Seberapa Penting Visual Dalam Membantu Menambah Nilai Pada Brand Anda

Kekuatan Metafora Visual Untuk Membangun Persepsi Audience.