Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Kehidupan yang sendu

Hidupmu terlalu sendu, dimiliki kejayaan industri dan menjadi boneka favorit politisi. Terlebih kamu phobia inovasi. Aku menjadi grogi ketika gagasan inovasi tidak kau apresiasi. Kesadaran kritis ku kau bungkam.

Sedikit Karya Seni Adalah Seni dan Sebagiannya Adalah Omong Kosong

--------------------- Kebanyakan dari pembuat karya seni adalah--membuat sebuah karya seni dengan ketergantungan pada karya seni lain de ngan metode 0 ] meniru-->referensi. 01 Hasil karya tiru akan segera sangat dibanggakan dan diaggapnya murni hasil pemikiran sendiri--suatu hari dapatlah sebuah masalah lain dalam proses ber+ karya "seni" namun [mereka] tidak dapat memecahkannya karena [mereka] tidak mempunyai referensi lain untuk ditiru [ketergantungan]. 02 Parameter seberapa jauh meniru adalah penilaian diri sendiri. {meniru dengan sangat meniru sering digunakan untuk keperluan pesanan sebuah karya}--[ maka itu ada;ah bukan karya seni, #pada dasarnya adalah karya seni tidak bisa di order 03 lalu [mereka] bangga dalam mengoperasikan sebuah sistem digital (yang membantu dalam proses pembuatan karya--menganggap karya seni adalah proses pembuatanya, bukan proses pemikirannya)-lalu menjualnya dengan perasaan bahagia mendapatkan uang yang tidak s...

Ah Kamu Cinta

Ah kamu, kamu gelisah karena cinta. Terburu buru dengan cinta. Kamu butuh cinta, bukan benar-benar jatuh cinta? Ah Kamu. Kamu berharap kehidupan kamu menjadi lebih baik hanya karena sebuah cinta. Atau mungkin kehidupanmu terlalu miris dan sendu sampai kamu hanya bisa berharap pada cinta lalu berharap cinta dapat mengubah kehidupanmu lebih baik? Atau mungkin juga, kamu mengartikan cinta menjadi sebuah trend? Ah kamu dasar korban populer. Apa tidak ada hal lain yg bisa kamu prioritaskan selain cinta? Ah kamu payah.

Terimakasi atas persahabatan

Kita pernah bersama, merayakan persabatan dengan seduhan kopi panas. Perayaan yang cukup meriah dengan tawa kita yang lancang. Saat itu persahabatan adalah segalanya. Aku cukup tersendu ketika terlintas terpikir akan sebuah perpisahan. Namun perbedaan ambisi akhirnya cukup kuat untuk menjadi alasan kita berpisah. Kebersamaan telah menjadi hal yang abstrak. Pernah suatu waktu kita berjanji, untuk menyempatkan waktu lagi dan merayakan kembali persahabatan. Namun nyatanya perayaan persahabatan tidak pernah dianggap lebih penting dari ambisi kita masing-masing. Keadaan ini terkesan wajar dan memang harus terjadi. Aku memakluminya bersamaan dengan kesenduan. Terimakasih persahabatan.